loading...

HEADLINE

Cernak Ari Vidianto (Lumbir, Jawa Tengah)_ MEMANCING IKAN GABUS

Redaksi menerima tulisan
Puisi minimal 5 judul, Esai, Cerpen untuk kami Siarkan setiap hari. Semua naskah dalam satu file MS Word dikirim ke e-email: majalahsimalaba@gmail.com
beri subjek_VERSI ONLINE
(Mohon maaf, laman ini belum dapat memberikan honorium)


Cernak Ari Vidianto

MEMANCING IKAN GABUS



Hari Minggu pagi ini Anto mendapat tugas memancing ikan gabus di kolam kakek Budi. Tetangga sebelah rumahnya. Ikan gabus suka memakan anak-anak ikan, jadi harus di pancing. Di kolam ikan kakek Budi ada ikan mujaer dan gurameh. Di situ ada beberapa ekor ikan gabus yang sudah besar-besar. Dan harus di pancing semuanya supaya ikan-ikan mujaer dan gurameh tidak banyak yang dimangsa.

Anto lalu keluar dari rumah. Sambil membawa 4 alat pancingan yang terbuat dari batang pohon salak. Memang di sekitar rumahnya ada beberapa pohon salak yang sudah besar-besar batangnya.

“To,kamu sudah cari cacing apa belum?” tanya kakek Budi.

“Belum,kek!

“Nih,kakek tadi sudah dapat banyak,” jawab kakek Budi sambil menyerahkan cacing kepada Anto.

“Makasih,kek!”

“Kamu bawa pancing banyak sekali,To?”

“Ya,kek. Biar cepat dapat banyak,”

“Ya.Cepat sana kamu berangkat,” perintah kakek Budi.

“Oke,bos,” jawab Anto sambil mengacungkan jempol. Ia segera berangkat menuju ke kolam ikan kakek Budi.

***

“Akhirnya sampai juga,” ucap Anto begitu sampai di kolam ikan. Ia segera memasang umpan pada kail,lalu segera ia lempar ke dalam kolam. Hawanya sangat sejuk karena berada di tengah-tengah sawah. Dan banyak pohon dan tumbuh-tumbuhan di sekitar kolam.

“Bismillahirohmanirohim,semoga aku dapat ikan gabus banyak. Aamin” ucapnya.

Lalu Anto mulai asyik memancing,namun tanpa ia sadari ada temannya yang sedang melihatnya memancing. Dia bernama Didi. Teman sekelasnya yang terkenal badung dan nakal.

“Hihihi..kukerjain ah,” gumamnya. Didi lalu mengambil batu-batu kecil di dekatnya. Lalu…

Byur,byur,byur! Dia mulai melempar batu ke tempat pemancingan Anto.

“Hei! Siapa kamu?” teriak Anto. Tapi Didi hanya diam di tempat persembunyiannya.

“Hihihi,kamu nggak bakalan dapat ikan,To,” lirihnya.

Byur,byur,byur! Batu kembali dilemparkannya lagi.

“Hei! Siapa kamu? Ayo cepat keluar! Jangan ganggu aku ya!” teriak Anto kembali namun lebih keras. Anto menengok ke kanan dan ke kiri,tapi tak terlihat orang.

“Hihihi,seru juga ngerjain Anto,” ucap Didi. Tetapi tanpa Didi sadari ada hewan yang mendekatinya.

“Wuuaaaa…ular! Ada ular!” teriaknya sambil lari. Anto pun kaget,ia melihat Didi yang keluar dari semak-semak sambil berlari Didi pun berlari sampai tidak lihat jalan,lalu …

Gedebruk!

“Aduuhh,…tolong-tolong!” teriaknya. Ternyata Didi jatuh ke dalam sawah. Badannya penuh lumpur. Anto lalu berlari dan menghampiri Didi. Ia bermaksud menolongnya. Terlihat ular itu sudah menjauh menuju ke semak belukar. Memang di sekitar sawah ada ular yang berkeliaran. Ular itu memangsa tikus-tikus sawah. Adanya ular membantu petani,karena tikus di mangsanya.

“Pegang tanganku,Di,” seru Anto. Didi hanya mengangguk,ia pun mengikuti perintah Anto.

“Terima kasih ya,To. Kamu sudah menolong aku,”

“Ya sama-sama. Makanya jadi anak jangan nakal,” nasehat Anto. Didi menunduk,ia malu sekali kepada Anto. Ternyata Anto anak baik,padahal dia sudah berbuat jahil padanya

“Maafin aku ya,To,” sesalnya.

“Ya,aku maafin. Tapi jangan diulangi lagi ya?”

“Ya,aku janji.Mulai hari ini,tidak akan nakal lagi,” ucap Didi penuh penyesalan.

“Nah,gitu dong,” seru Anto.

“Sekarang kamu bersihiin badanmu di sungai dulu ya?”

“Oke,” jawab Didi sambil berjalan kea rah sungai. Dia pun segera membersihkan badannya. Setelah itu dia kembali menemui Anto.

“To,aku bantuin kamu ya?” pintanya.

“Ya,sini-sini,”

“Belum dapat juga ya?”

“Ya,belum. Dari tadi kamu kan nggangguin,”

“Oh,iya. Sekali lagi maafin aku ya?”

“Ya,ya. Sekarang bantuin aku ya?

“Oke,” jawab Didi semangat. Lalu mereka pun berkosentrasi. Sepuluh menit kemudian, 4 kailnya bergerak-gerak. Lalu Anto dan Didi segera mengangkat dan ternyata dapat ikan gabus. Betapa senang hati Anto dan Didi. Lalu ikan-ikan tersebut di masukkan ke dalam kantong plastik. Lalu kembali memasang umpan dan dapat ikan kembali. Begitu seterusnya. Akhirnya Anto mendapat 15 ekor ikan gabus. Lalu Anto memberi 5 ikan gabus untuk Didi. Dia sangat senang sekali. Karena hari sudah sore mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Anto sudah tidak sabar untuk meminta ibu menggoreng ikan gabusnya. Dan segera menikmatinya kelezatan dagingnya.

“Hmm,enak,” batin Anto.

                                                                    TAMAT

Tentang Ari Vidianto: lahir di Banyumas, 27 Januari 1984. Bekerja sebagai Guru di SD Negeri 2 Lumbir.Bukunya yang sudah terbit yaitu Ibu Maafkan Aku ( Pustaka Kata, 2015 ) & Wajah-Wajah Penuh Cinta ( Pustaka Kata, 2016 ). 17 buku Antologi  dan banyak karya yang dimuat di Media Massa seperti di Majalah Sang Guru, Ancas,SatelitPost, Tabloid Gaul, Readzone.com, Buanakata.com,Sultrakini.Com, Riaurealita.Com,Duta Masyarakat, Solopos, Radar Mojokerto, Kedaulatan Rakyat dll 

Tidak ada komentar