loading...

HEADLINE

Cerpen Ade Mulyono_RAHASIA HATI PEREMPUAN

Redaksi menerima tulisan
Puisi minimal 5 judul, Esai, Cerpen untuk kami Siarkan setiap hari. Semua naskah dalam satu file MS Word dikirim ke e-email: majalahsimalaba@gmail.com
beri subjek_VERSI ONLINE MAJALAH SIMALABA
(Mohon maaf, laman ini belum dapat memberikan honorium)



Cerpen Ade Mulyono

RAHASIA HATI PEREMPUAN


Arak-arakan mempelai pria memasuki kediaman mempelai wanita. Para pemuda yang menemani bersorak ria menyanyikan tembang bahagia. Karpet merah membelah para tamu undangan sebagai jalan setapak menuju mahligai pelaminan sang pengantin. Lalu para tamu dipersilahkan duduk di kursi yang sudah dipersiapkan oleh tuan rumah.

Tembang rebana menggema seisi ruangan, para penabuh musik semakin larut dalam senandung, dawai syairnya mengalun indah bagai tembang cinta pada tiap hati anak muda. Sepasang kekasih berjalan keluar meninggalkan keramaian pesta, tiada lain untuk memanfaatkan hal itu untuk bercumbu rayu, menuangkan rasa haus di dada dalam benjana asamara layaknya sepasang pengantin di kesunyian.

Ada pula  lelaki berjenggot putih, tangannya menggenggam tasbih sebagai lambang kealiman, lengkap dengan sorbannya yang melingkar di kepala bagai mahkota. Di sampingnya berdiri seorang perempuan, cantik dan manis. Sesekali kerudungnya dipaksa dilepas oleh tangan-tangan angin untuk memperlihatkan lehernya yang jenjang, kulit yang putih dan mulus, tampak segar bagai buah anggur yang baru dipetik dari ladang. Mereka yang melihatnya dibuat menelan air ludahnya sendiri, khususnya anak muda. Segera saja terlintas di batoknya pikiran mesum, sedang bibirnya komat-kamit dipenuhi serapah, “Semoga lekas menjada.”

Di halaman belakang yang remang-remang, seorang perempuan yang tak lagi muda sedang memainkan rambutnya lalu sambil membelakangi seorang lelaki muda, seperti anak perawan ia bicara perihal cinta dengan tersipu-sipu, sambil berusaha keras melupakan  suaminya di rumah yang tengah mabuk  asmara bersama istri mudanya. Serta ada pula seorang perempuan muda berpakaian gaun beludru hitam sedang rambutnya dikepang yang menambah kecantikan wajahnya yang bulat ibarat purnama. Dengan penuh kebanggan ia memperkenalkan suaminya yang kaya raya, kepada sahabatnya dengan berkata, “Zahra dari tadi kuperhatikan kau sendiri saja, mana tunanganmu? Aku ingin mengenalnya, aku juga mendengar katanya tunanganmu adalah pemuda kaya raya. Sungguh aku pun ikut bahagia mendengarnya. Lihatlah suamiku ini dia begitu sangat baik padaku, kalung, cincin, dan segala perhiasan mudah sekali aku mendapatkannya hanya sekali rengekan manja.”

“Semoga engkaupun mendapatkan kebahagiaan seperti aku.” lanjutnya sambil memperlihatkan perhiasaan yang menempel di tubuh putihnya.

Zahra pun menimpali dengan suara  lembut, “Sahabatku, bagiku kebahagian cinta bukanlah terletak pada seberapa banyak perhiasaan yang kita kenakan, seberapa mahal harta benda yang diberikan suami kepada istrinya, tapi seberapa banyak rasa cinta dan kasih yang dipersembahkan dengan ketulusan dalam ikatan sebuah pernikahan, kerena keagungan cinta tak bisa diukur dan ditimbang dengan harta. Karena apalah artinya kesenangan dunia, sedang hati redup dan haus akan kebahagiaan cinta.”

“Oleh karena itu, aku percaya bahwa kebahagiaan yang sejati hanya bisa diraih oleh tangan-tangan cinta. Tangan yang selamanya akan memeluk dengan lembut dan mesra, yang selamanya akan tetap lembut tidak akan berubah menjadi cakar dan kasar. Aku tak mencintai pemuda yang ditawarkan oleh orang tuaku, hati ini telah terpaut oleh pemuda lain, pemuda baik yang menjunjung tinggi kesopan-santunan, terlebih ia selalu menyuapi dadaku dengan kebahagiaan cinta. Sekarang pemuda itu tengah merantau di negeri orang untuk memerdekakanku, untuk menikahiku. Aku akan menunggunya dengan seribu senyum penuh cinta layaknya cinta yang selalu ditunggu para remaja.” lanjutnya pergi meninggalkan sahabatnya dengan langkah yang berat, kemudian masuk kebilik pengantin mempelai perempuan.

“Aduhai sahabatku cantik sekali engkau, janganlah disembunyikan kecantikanmu itu Mardhiyah, di luar lelakimu sepertinya tak sabar ingin melihatmu,” kata Zahra sambil memeluk sahabatnya itu.

“Apa kau masih bersedih Mardhiyah? Bersabarlah memang kedudukkan perempuan begitu rendah, selalu nomor dua di tanah Jawa yang disesaki oleh orang priyayi ini. Tapi setelah ini, saat mentari menyingsing dari ufuk timur, kau akan menjadi perempuan mulia. Perempuan yang mengurusi suaminya dengan ikhlas bukankah sebuah kemuliaan, maka surgalah ganjarannya,”

Mardhiyah kemudian menjawab, “Zahra kau takkan mengerti kedukaanku. Di balik dari kemeriahan pesta pernikahanku, justru ada seorang pemuda menangis tersedu-sedu di luar sana, meratapi kejamannya kehidupan atas ketidak beruntungannya, tidak lain pemuda itu adalah kekasihku. Perpisahan ini begitu perih, bagaimana mungkin hati tidak lara dan mata tak menitikkan air mata, pemuda yang telah menenun kulitnya sendiri untuk dijadikan gaun pengantinku,  namun dari tanganku sendiri aku merobek seserpih kulit itu, bukan hanya kulit yang kurobek tapi hatinya yang juga menyimpan pengharapan begitu besarpun aku koyak-moyak juga. Dan air mataku adalah air matanya pula bagai bercermin dari wajahku sendiri, aku melihat wajah penuh luka.”

“Ketahuilah Zahra, bahwa pernikahan ini sejatinya adalah pernikahan kedudukan demi gebyar-gebyar kehidupan yang berlaku dipergaulan masyarakat. Aku telah dijodohkan dengan anak orang kaya. Dan pemuda yang kau lihat tengah duduk di mahligai dengan bangganya, seakan hidupnya diisi dengan kemenangan, sedang hatinya dipenuhi rasa tidak sabar menanti datangnya kesenangan saat malam makin larut untuk menelanjangiku sebagai jajahan jiwanya. Lalu saat pagi menjelang, dia akan menjadi suami yang harus aku hormati, bahkan setelah kau tinggalkan kami berdua di ranjang ini adalah penghormatan pertama kali untuknya sebagai seorang gadis yang hilang marwahnya. Penghormatan yang seharusnya aku berikan pada kekasih jiwaku ternyata harus aku berikan kepada orang lain yang akan menikmati setiap tangisku.” Ujarnya melanjutkan.

Zahra diam saja mendengar Mardhiyah membuka tabir hatinya, hanya memandangi matanya yang penuh air mata, maka terlukislah kesedihan masih bermuara pada jiwanya.

Setelah bertukar rahasia hati keduaya keluar dari bilik pengatin. Para undangan pesta riuh menyambutnya, ada yang terkagum-kagum dengan kecantikan paras mempelai perempuan, ada pula yang menyimpan rasa kecewa dan hanya menelan air liurnya saja, kebanyakan adalah anak muda.

Zahra tertegun dengan suasana keramaian pesta pernikahan sahabatnya. Matanya tertuju pada terang gemerlap cahaya lampu minyak dan obor, sedang pikirannya berkelana memikirkan kekasih hatinya. Dalam renungannya Zahara berbisik pada dirinya sendiri, “Kekasihku aku akan sabar menantimu dan setia menunggumu, kelak bilamana kita duduk di mahligai yang sangat sederhana sekalipun, yang mahligainya terbuat dari bambu dan istana kita adalah gubuk, dan cincin pernikahanya bukanlah emas atau permata melainkan bebatuan, aku sudi menerimanya. Akan kumudahkan engkau memerdekakanku wahai lelakiku. Sebagaimana cinta tak meminta apapun dari jiwaku sebagaimana itu pula aku tak akan meminta apa pun darimu. Aku tak peduli dengan hinaan nantinya meludah di jiwa kita, cukup bagiku hanya engkau sebagai pemberian terindah dari langit.”

Setelah beberapa saat, terlihat Sekar teman remajanya, lalu di sampingnya berdiri seorang paruh baya, jenggotnya yang putih mengekor panjang, orang-orang menyebutnya dengan panggilan Kyai, dia adalah suami Sekar. Usia perkawinannya sudah menginjak tiga tahun. Kini, Sekar berusia 18 tahuan. Andai saja anak pertamanya hadir pula di pesta ini, mungkin Sekar lebih pantas jadi adiknya. Aku memelas nasib sahabatku itu, di mana dulu Sekar bercerita bahwa kehidupan yang panjang ini akan dihabiskan untuk mencari ilmu setinggi bintang-bintang. Layaknya bunga yang belum bertemu musim seminya, kini harus berguguran dan mimpi itu kini tinggalah mimpi. Sekar dipaksa menikah oleh orangtuanya sebab kesukaran hidup membayangi wajah keluarganya. Sebagai anak pertama kepahitan itu ditelan bersama air matanya sendiri dengan penuh kesabaran, merelakan dirinya dinikahi oleh orang kaya dan priyayi pula.

Tak lama kemudian datanglah seorang perempuan muda, umurnya kira-kira 25 tahun. Ia menghampiri Zahra lalu menyapanya, “Zahra adikku, aku bahagia kau menolak perjodohanmu, sebagai saudarimu tentu aku ingin kebahagiaan selalu menyertaimu. Mari Zahra aku ingin menceritakan rumah tanggaku yang menyedihkan.”

Kedua perempuan itu bergegas meninggalkan pesta pernikahan. Zahra memegang erat tangan saudarinya seraya menuntunnya berjalan menjauhi kebisingan dan keramaian. Setelahnya, keduanya duduk pada hamparan rerumputan di muka halaman. “Apa yang menimpamu? Apa yang sebenarnya terjadi. Bukankah seharusnya engkau bercerita tentang kebahagiaan karena memperoleh suami kaya juga ahli agama?” Tanya Zahra.

Dengan isak tangis saudarinya menjawab, “Tidak Zahra, segala kebahagiaan hidup yang diterangkan oleh orang tua kita hanyalah pengharapan saja. saat langit telah menuliskan takdirnya dan takdir itupun turun pula bagai hujan membanjiri bumi apa yang dapat dilakukan bunga-bunga di taman. Adikku ketahuilah, sebelum aku dihadapkan pada kenyaatan begitu pahit, aku sudah mencoba menjadi perempuan yang paling mengerti kehendak dari pada suamiku, menaruh rasa hormat yang tinggi, bersikap sopan santun, lemah gemulai, dan berhias mempercantikan diri. Kecuali cinta yang besar tak bisa aku membaginya walau hanya setetes embun, satu kata yang mudah diucapkan namun teramat sulit dijalankan. Aku tak bisa menghadirkan dalam perjamuan cinta sebagai pelayan di atas ranjang atau penyuap nasi di meja makan.” Dan menangislah sepasang adik-kaka itu, Zahra memeluknya dengan perasaan getir.

Saudarinya lalu menambahkan kembali, “Mungkin kau masih ingat kekasihku dulu seorang pemuda yang santun dalam tutur-kata, terlebih saat air mata menghujani bibirnya saat berkata cinta. Memoar itulah yang membuatku masih enggan beranjak membagi cintanya dengan yang lain. Apalagi bila kuingat saat dia melamarku, memohon belas kasih kepada ayah bunda kita, namun dengan vonis kejam, ditolak lamaran itu dengan kasar. Dan saat dia pergi dengan membawa harapan pupus, dia berkata kepadaku, kekasihku sudah di ujung tepi cinta kita berlayar mengarungi samudera kehidupan yang ganas, maka kulepas engkau ketepian itu sendiri dan biarlah aku berlayar mengembara seorang diri pula menyisiri samudera dan lembah kehidupan. Tak ada lagi hubungan di antara kita. Sambutlah matahari baru dan semoga matahari baru itu dapat diterima baik oleh orang tuamu. kata terakhir itulah yang terpatri di relung hatiku.”

“Adikku jangan sampai kau mengalami hal yang sama macam musibah diriku ini, cukuplah aku sebagai sesembahan terakhir. Jagalah lentera cintamu karena kelak anak-anakmu akan mengambil sepercik cahaya itu untuk menerangi jalan cinta dan kehidupan yang gelap dan beku.” kata-kata itu meluncur deras menghujam hati Zahra. 

Zahra mematung tak dapat berkata apa-apa, tangannya sibuk menyeka air matanya. Sedang saudarinya sudah hilang dari pandangan matanya setengah jam yang lalu, dan hanya Tuhan yang tahu ke mana saudarinya berlalu, yang jelas ia membawa luka hati yang sembilu dan hari-harinya yang haru biru.



Tentang Penulis


Ade Mulyono, tulisannya dimuat di media cetak dan daring. Puisinya tergabung dalam antologi Monolog Bisu (2016) dan Lewat Angin Kukirim Pesan untuk Abah (2017), saat ini sedang menyiapkan novel perdananya “Lautan Cinta Tak Bertepi”. Ia tinggal di Jl Peninggaran Barat 3 RT 13 NO 57 Kebayoran Lama


Tidak ada komentar