loading...

HEADLINE

Cerpen Q Alsungkawa (Lampung Barat)_19 MARET 1995

Redaksi menerima tulisan
Puisi minimal 5 judul, Esai, Cerpen untuk kami Siarkan setiap hari. Semua naskah dalam satu file MS Word dikirim ke e-email: majalahsimalaba@gmail.com
beri subjek_VERSI ONLINE
(Mohon maaf, laman ini belum dapat memberikan honorium)


Cerpen Q Alsungkawa

19 MARET 1995




“Karang karang karang” teriak kondektur ‘WASPADA’ jurusan Liwa-Raja basa.

Aku lambaikan tangan kiri ke arah bus yang melaju kencang. Tak selang berapa lama bahuku sudah nyaman di jok yang kebetulan tingal satu-satunya yang kosong.
Setelah menyodorkan beberapa lembar pecahan uang sepeluh ribuan ke petugas penarik ongkos, aku langsung pulas menikmati perjalanan dengan bermimpi, dan SANDIWARA CINTA lagu terbaru Nike Ardilla yang lagi buming cukup melengkapi suasana pulang kampung. 

Sekitar tiga puluh menit, tiba-tiba mobil berhenti dan aku terjaga, ternyata ada penumpang diperkirakan mereka ibu dan anak.

Berhubung tidak ada bangku yang kosong lagi, penumpang tersebut terus berdiri sambil celingukkan matanya mencari-cari sekiranya masih ada tempat yang kosong.

“Teteh boleh duduk di sini” sembari aku bangkit dan menawarkan tempat duduk yang kumiliki.

“Oh, terima kasih a” sambil menatap penuh selidik tetapi tidak ada pilihan yang lain dan dengan penuh canggung merekapun duduk.

“Raja basa habis raja basa!” Teriak asisten sopir ketika bus yang kami tumpangi memasuki terminal.

Seluruh penumpang berhamburan, turun dan mencari-cari bus berikutnya yang akan membawa kami ke masing-masing tujuan. Tanpa sengaja aku dan si teteh juga anaknya kembali satu mobil dan kami duduk di satu bangku baris tiga, aku ambil posisi di sebelah pinggir arah kaca. 

“Aa mau ke mana?” tiba-tiba ia bertanya, mungkin sekedar mencairkan suasana ketika beberapa menit berlalu kami meninggalkan terminal. 

“Ke Tasik Malaya” jawabku sedikit melirik dan kembali melempar pandangan ke balik jendela menikmati segala bentuk penampakan yang hanya sekilas saja.

Senja itu begitu indah panorama laut Bakauheni seolah mengiringi pelayaran kami yang beranjak dari tanah Sumatera menuju dermaga Merak.

“Aa, ayo kita makan bareng, kebetulan Lia bawa bekal banyak” ucap si teteh teman satu mobil tadi yang bernama lengkap Lia Aulia.

Aku hanya membalas dengan senyum saja dan tidak tertarik untuk ikut menikmati bekal mereka, dikerenakan memang belum lapar lagi sebab sewaktu bus yang kami tumpangi mampir di RM Siang Malam Lampung Selatan aku sudah menyantap hidangan yang cukup lezat masakan ala minang.

“Ayolah a, temanin Lia makan” dengan tatapan memelas penuh harap agar aku mau ikutan makan bersama.

Aku merasa tak tega menolak ajakan mereka terlebih lagi aku tak ingin menimbulkan kesan sombong atas penolakkanku.

“Hmmm, baiklah tapi maaf sebelumnya, sebetulnya saya tadi sudah makan dan belum lapar lagi” ucapku sambil duduk beralaskan koran dan membuka nasi yang dibungkus daun pisang dengan lauk ayam bakar yang sudah dingin itu.

19-30 waktu di arlojiku ketika sedang asik menonton Televisi di lantai dua kapal Nusa Jaya tiba-tiba sekilas info di Televisi yang memuat berita tentang meninggalnya pemilik suara barito Nike Ardilla pelantun tembang (Mamah Aku Ingin Pulang) dengan musabab kecelakaan.
Sontak seisi ruangan kapal tercengang antara percaya dan tidak percaya.

“Innalillahi Wainnaillaihi Rozi’un” ucapku lirih dan kupanjatkan beberapa doa kebaikan untuk almarhumah Nike Ardilla. 

Ada sesuatu yang menyesak di rongga dada, dan setengah percaya setengah tidak atas info tersebut. Kembali ingatanku melayang dan mengingat karya-karya indah yang Nike Ardilla nyanyikan dengan penuh penjiwaan, ia adalah bintang yang lagi menyinari Langit Nusantara dan tentunya lagi digandrungi muda-mudi masa itu.

“Aa, ko ngelamun terus” seketika suara lembut membuyarkan lamunanku yang sedang berkelana ke banyak hal, sebenarnya pikiranku masih dipenuhi tentang kabar meninggalnya artis idolaku.

Kapal yang kami tumpangi telah mendarat di Dermaga Merak dan teman seperjalananku Lia sudah berlalu duluan meninggalkanku mungkin takut kehabisan angkutan umum hehehe...
Santai saja aku menuruni anak tangga dan mataku mencari-cari bus jurusan Tasik Malaya, aku mau ambil jurusan langsung saja ke terminal Cilembang-Tasik Malaya.

Ketika mataku mengitari bangku di ruangan bus, mataku kembali hinggap pada dua sosok yang kukenal tadi, ternyata lagi-lagi kami satu kendaraan, kebetulan masih banyak bangku kosong dan aku memilih duduk di tempat lain tapi satu baris Cuma terhalang jalur tengah saja. 

“Aa, duduk sini saja!” Seru Lia sambil memberi isyarat dengan lambaiannya. 

“O, iya nanti, mumpung masih kosong saya pingin selonjoran dulu” timpalku seketika mengangkat kaki untuk selonjoran di atas bangku kosong.

Aku terjaga, ketika ada yang menepuk-nepuk kaki, rupanya sang petudas penarik upeti menagih ongkos perjalananku.
Lalu kusodorkan beberapa lembar pecahan dua puluh ribuan dan ia langsung berlalu, aku pun kembali tidur. 
Sontak aku terkaget dan mengurungkan tidurku ketika dari samping ada orang menangis tersedu-sedu dan rupanya Lia yang menangis. Selidik demi selidik ternyata seluruh uangnya ludes disikat copet keparat sewaktu masih berjalan atau sedang ngantri untuk naik ke bus kota. 
Aku bangkit dan mencoba menenangkan dia yang masih menikmati tangisannya, juga kembali kusodorkan uang ke abang berseragam biru sebagai ongkos untuk mereka. 

“Sabar ya, Lia, ini ujian dari Allah” sambil kuraih saputangan dari saku dan menyerahkan pada wanita malang itu, kemudian dengan basa-basi aku sedikit memberi pencerahan sekedar menenangkannya. 

Aku beralih duduk di sebelah Lia, bukan karena ada apa-apa tetapi naluri manusiaku tersentuh untuk memberi perlindungan walaupun sedikit terlambat.
Cukup lama ia menangis dan aku membiarkan dadaku sebagai sandarannya.

“Emangnya Lia tujuan kampungnya ke mana?” setelah beberapa lama, akhirnya kuberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan tersebut.

Lia mengangkat wajahnya, dan kelopak yang masih berlinang kemudian ia usap dengan saputangan yang tadi kuberikan.

“Tujuan Lia, ke Cintabodas a” jawabnya setengah tersendat.

“Oooo, ambil jurusan dari Tasik aja nanti” timpalku singkat. 

“Aa, terima kasih, ternyata aa baik juga orangnya, Lia kira sedingin dan secuek yang Lia kira” ucapannya lirih.

“Hmmm, saya hanya melakukan apa yang semestinya saya lakukan” timpalku sekenanya saja. 

Obrolan kami trus bergulir hingga kami tak sadar lagi telah sampai di mana, kami bicara ngalor-ngidul sekenanya saja yang penting aku dapat sedikit menghibur suasana hatinya yang berkabut atas peristiwa yang ia alami.

Menjelang subuh bus yang kami tumpangi memasuki terminal Cilembang, yang artinya tujuan kami sudah sampai Tasik Malaya dan tinggal menyambung lagi ke kampung masing-masing. 

“Lia mau tunggu di sini atau mau ikut saya ke Mushola” sambil aku menunjuk Mushola di sudut terminal. 

“Oh, iya, saya juga mau ke Mushola a, mau ke WC dan juga mau sholat subuh dulu” jawab Lia sembari bergegas meraih tasnya.

Pagi itu dilengkapi gerimis kabut kabut menutupi Galunggung, namun suasana terminal makin ramai berbagai macam kendaraan dari setiap jurusan mulai memadati dan para kondektur yang sibuk ke sana kian ke mari mencari para penumpang.

“Yuk, kita sarapan dulu sebelum melanjutkan perjalanan kita masing-masing” ajakkanku sama Lia sambil aku meraih tangan anaknya dan tanpa meminta persetujuan Lia aku langsung membawa anaknya memasuki Warteg terdekat.

“Tunggu di sini sebentar ya, gak lama ko” sambil bergegas meninggalkan mereka yang masih asik menyantap sarapannya, karena aku makannya cepat dan aku berlalu ke sebuah toko juga penjual buah-buahan.

Sekitar sepuluh menit aku sudah kembali ke Warteg tersebut dan melunasi hutang sarapan kami kemudian berlalu menuju bus kota berukuran sedang jurusan Cintabodas.

Sambil menunggu penumpang yang lain aku memastikan Lia dan anaknya ttelahnyaman di mobil tersebut dan aku tunjukan kardus yang aku jinjing dari toko tadi sebagai oleh-oleh mereka pulang kampung.

“Lia, kita berpisah di sini, dan tenang saja ongkosnya sudah saya lunasi dan ini untuk keperluanmu lainnya di jalan” sambil aku meraih tangan Lia dan menyelipkan bungkusan koran ke telapak tangan Lia, semoga manfaat dan mungkin kita bisa jumpa lagi.

“Aa, terima kasih, ko banyak banget uangnya” sambil menangis ia menunjukan uang yang kuberikan sekitar satu juta lebih, kebetulan aku membawa stok uang yang cukup.

“Tak apa-apa, saya ikhlas ko itu rezekimu, biar Allah yang menggantinya dengan caraNya sendiri” sambil tanganku mengusap-ngusap bahunya.

“Aa Q Alsungkawa, ini mungkin suatu hari aa ke daerah Lia dan Lia mengharapkan aa maen ke rumah Lia” sambil menyerahkan secarik kertas bertuliskan alamat rumah.
Aku meraihnya kemudian turun dari mobil yang mereka tumpangi sembari mengucapkan beberapa kalimat perpisahan.

Setelah berlalu dari bus yang Lia tumpangi, aku menuju ke toko kaset memilih beberapa unit yang tentunya aku mencari album terbarunya Nike Ardilla, sebagai kenangan terakhir penyanyi paporitku yang telah pulang ke pangkuan Illahi.


Stahun kemudian berlalu dari kisah pertemuan dengan Lia Aulia, dan aku sedang memeriksa kelengkapan surat-menyurat di dompetku yang sudah lecek, aku menemukan secarik kertas bertuliskan alamat, ingatanku bekerja mengingat-ngingat alamat siapa yang tertera di secarik kertas tersebut. Dan ternyata itu kertas yang pernah diberikan Lia sewaktu perpisahan di mobil setahun lalu. 

“Aa, punten numpang taros, upami bumina teteh Lia Aulia di palih mana?” Dengan bahasa sunda aku bertanya kepada penjual bensin eceran yang ada di simpang kampung Neglasari dari wilayah Cintabodas yang artinya (Mas maaf numpang tanya, kalau rumahnya mbak Lia Aulia di mana?) Sambil aku tunjukis secarik kertas yang bertuliskan alamat yang dituju.

Setelah si penjual bensin eceran tersebut menerangkan arah dan ciri-ciri alamat yang kutuju dengan rinci, di samping aku mengisi bensin sepeda motorku, kemudian melanjutkan perjalananku, memacu Jufiter Z keluaran terbaru menuju rumahnya teh Lia.

Sesosok perempuan muda yang sedang asik menampi beras, ia sedikit bengong menatap ke arahku yang memasuki halaman rumahnya, tentu ia tak mengenalku apalagi helm yang menutupi wajah gantengku heheheee masih lekat di kepala.

“Tiiiint... Tiiiint Tiiiint” klakson kubunyikan beberapa kali lalu kucopot helmku dan.

“Aa..., Lia kira siapa” setengah tidak sadar ia melemparkan tampah yang masih berisi beras, wal hasih beras itu bersekakan dan menjadi sergapan empuk ayam ayam yang sedari tadi mengincar rezeki di tangan Lia.

Setelah cukup basa-basi sebagai pelepas kerinduan, Lia menuntunku masuk ke rumah dan memerintahkan anaknya untuk menyusul ayahnya yang sejak pagi berangkat ke sawah.

“Iniloh yah, aa yang setahun lalu Lia ceritain, yang nolongin Lia waktu kecopetan ketika pulang dari Lampung” ucap Lia kepada suaminya di sambil menyodorkan segelas teh manis. 

“Oh..., kenapa atuh baru sekarang maen kemari, sebetulnya saya berkeinginan mau mendatangi rumah aa, tapi yaa sayangnya Lia gak minta alamat aa, saya mau berterimakasih banyak atas kebesaran jiwa aa nolongin istri dan anak saya” jawah Hadi suaminya Lia, sambil menyodorkan tangan mengajak salaman.

“Ah, itu mungkin sudah rencana Allah untuk membuat pertemuan kita saat ini kang, dan saya juga merasa senang bisa sedikit berbuat bagi orang orang yang sedang membutuhkan, tentunya sebatas kemampuan saya pribadi” balas aku dengan sedikit mewajarkan atas semua yang terjadi. 

Beberapa hari saya di tahan di rumah Lia dan seolah kedatangan tamu istimewa, segala sesuatunya diistimewakan dari mulai makanan, minuman dan semacamnya, ternyata menanam kebaikan tidak perlu menunggu di Surga untuk menikmati hadiah dari Allah, di dunia saja sudah begitu indah dan terasa nikmatnya.

“Aa..., boleh Lia pinjam motornya, mau ke tempat temen dapa undangan pernikahan” dengan nada sedikit merayu, Lia mengutarakan maksudnya untuk meminjam motorku.

“Hmmm, boleh teteh, saya pikir mau apa ko serius banget ternyata cuma mau minjam motor” aku nyengir sambil memberikan kontak sepeda motor.

Sore itu aku tak ingin menyia-nyiakan waktu, kuisi dengan kegiatan memancing ikan di sungai yang berbatu dan airnya begitu jernih, suasana yang cukup menyenangkan.

“Om...” tiba-tiba ada suara memanggil dari arah jembatan, ternyata Affisa, anaknya Lia yang manggil. 

Segera kugulung pancingan dan terus menghampiri Affisa.

“Ada apa Neng..., ko serius banget” aku bertanya pada Affisa.

“Anu om, kata mamah motornya jatuh dan om diminta nyusul sama om Ardi” jawab Affisa sambil menunjuk Ardi yang tadi membonceng Affisa.

Tak lama kami langsung meluncur ke TKP, aku kawatir banget sama kondisi Lia, dan aku tak berani membayangkan kejadian yang mengerikan.

“Aa, maaf motornya jatoh tadi dipake sama Riska adek sepupu temen Lia yang punya hajat” tutur Lia menerangkan kronologisnya.

Ternyata bukan Lia yang jatoh dari motorku, melainkan Riska, dan entah seperti apa Riska itu, aku jadi penasaran. 

“Oh, gak apa-apa teh, tapi gimana keadaan Riska, apa dia baik-baik saja?” jawabku sambil balik bertanya sama Lia.

“Langsung masuk aja a, lihat sendiri, kebetulan aa ditunggu sama Riska, katanya mau minta maaf” timpal Lia atas pertanyaanku.

Setengah canggung aku mengikuti Lia, yang menuntun tanganku untuk masuk ke rumah yang belum pernah kukenal.

“Aa, maafin Riska ya, tadi motornya jatoh sama Riska dan lampu-lampu juga spionnya pecah dan patah, maaf ya a” ucap Riska sambil meringis kesakitan dari luka-luka ringan yan cukup pedih juga dan aku pernah merasakan luka-luka itu. 

Tetapi bukan itu yang menarik perhatianku, ternyata Riska memiliki paras yang cantik sekali matanya bulat tajam, hidung mancung dan body aduhai, wujud yang cukum membuat kaula muda susah untuk tidur. 

“Aa, ko gak jawab, marah ya sama Riska” kembali suara lembut yang menahan kesakitan menyadarkanku dari lamunan sesatku. 

“Oh, hmmm, gak apa-apa yang penting Riskanya selamat dan tidak cidera” jawabku sekenanya saja, karena terpesona oleh wajah memikat yang dimiliki Riska.

Dua hari kemudian Riska mengunjungi rumah Lia, diantar adek lelakinya Hamdan, kedatangannya sambil mengembalikan motorku yang baru selesai diperbaiki di bengkel.

“Aa, maafin Riska ya motornya terpaksa masuk bengkel” lagi-lagi Riska memohon maaf dengan setengah merengek. 

“Sudahlah Riska, toh itu bukan disengaja, lagian siapa pula yang mau jatuh, jatuh itu tak enak, lebih baik jatuh cinta heheheeee...,” aku menimpali, sebagai jawaban yang penuh kelakar.

Kami terlibat pembicaraan yang cukup menarik di iringi lantunan suara emas Nike Ardilla yang kasetnya kubeli setahun lalu di Tasik Malaya, tapi ini kami dengarkan melalui Radio FM Galuh Surya Kencana.

“Riska, aa boleh tanya sesuatu gak ya, tapi sipatnya sangat pribadi?” Dengan suara agak dipelankan akhirnya terlepas juga pertanyaan itu dari mulutku, yang tentunya membuat Riska memandang lebih tajam dan penuh selidik.

“Hmmm, aa emang mau nanya apa, serius banget sepertinya?” Cukup santai Riska menjawab pertanyaanku.

“Riska, apa Riska sudah punya pacar?” cukup lugas pertanyaanku karena kepalang basah ya nyebur saja sekalian biar tau merah-ungunya atas pekiranku yang hinggap semenjak dua hari yang lalu.

“Belum” jawabnya singkat. 

Hening untuk beberapa saat, tetapi di dadaku makin gemurus serupa ombak laut pantai selatan.

“Riska, sepertinya ada perasaanku yang kecempung ke hatimu melalui celah mata indahmu” laksana seorang puitis aku memaparkan gejolak yang berkecamuk di ruang hatiku.

“Aa, seperti seorang pujangga saja Riska jadi melesat ke ranah entah-berantah, langsung aja aa gak pake berkelok” Riska menimpali kalimatku.

“Hmmm, Riska, aku jatuh cinta, maukah Riaka menjadi pacarku?” sserrrrrr, akhirnya kalimat ajaib itu mampu kuloloskan dari mulutku dan aku tak perduli apa jawabannya yang terpenting kalimat misteri itu telah tersampaikan kepada tujuannya.

Lama Riska memandangi wajahku seolah ingin menguliti seluruh perasaanku, mungkin ia takut ada kebohongan yang tersembunyi di balik tubuhku ini.

“Aa, serius” ucapnya ringkas tapi tegas. 

“Ya...!” aku menjawab tak kalah tegas.

“Baiklah aa, Riska, terima cinta aa, dengan syarat aa serius dan saling percaya” jleeb, seolah menyapu seluruh kabut atau debu yang jadi penghalang atas jawabannya yang sebetulnya jawaban ia tidak kuperkirakan kalau dia mau menerima cintaku. 

Tak terelakan lagi pelukkan pertama yang cukup menerbangkan perasaan kami hingga ke langit tertinggi sekalipun. Dan sebagai catatan sejarah terindah yang kami miliki karena itu cinta perdana kami yang tumbuh di Langit Cintabodas. TAMAT. 

Lampung Barat, 16 Oktober 2017.


Tentang Q Alsungkawa: Ia tingggal di Desa Ciptamulya, Kec: Kebun Tebu-Lampung Barat. Q Alsungkawa bergiat di komunitas sastra di Lampung Barat (KOMSAS SIMALABA),
Puisi-puisinya dipublikasikan di media online www.wartalambar.com, Saibumi.com, Lampungmediaonline.com. Sejumlah karyanya juga di muat di beberapa antologi bersama MY HOPE 2017. EMBUN PAGI LERENG PESAGI 2017, EMBUN EMBUN PUISI 2017, MAZHAB RINDU 2017, dimuat di MAJALAH SIMALABA, versi cetak dan versi online, lolos di even Nasional, LANGIT JATI GEDE. dan rutin mengikuti Event bertarap Nasional.





Tidak ada komentar