loading...

HEADLINE

MENGERIKAN_SALJU DI KUTUB TERUS MENCAIR_DARATAN KITA TENGGELAM PELAN PELAN


Ulasan Warta Simalaba

Perubahan suhu di bumi tidak bisa kita pungkiri terus berasa panas dan gerah, hal ini terutama sekali kita rasakan di kota-kota besar. Meningkatnya suhu di bumi ini terus berlangsung dari tahun ke tahun. Perubahan iklim ini dapat dirasakan langsung di negeri kita, Indonesia, dengan musim hujan yang datang lebih awal, bahkan lebih panjang dari beberapa dekade sebelumnya. Dan, beberapa wilayah di tanah air yang terus menjadi wilayah banjir.

Global Warming bukan sebuah isapan jempol belaka, tetapi terus menjadi ancaman yang menghantui semua mahluk di muka bumi. Tetapi kampanye anti pemanasan global seakan jalan di tempat, semua negara-negara di dunia terus meningkatkan intensitas sektor industri masing masing guna mendongkrak pertumbuhan ekonominya. Di satu sisi, bongkahan bongkahan es di kutub utara dan selatan bumi terus nyelonong ke laut, membawa pengaruh yang cukup signifikan terhadap iklim serta kondisi cuaca di seluruh penjuru dunia.

(Bongkahan es di kutub yang terus rontok. Tidak mampu mempertahankan titik bekunya akibat Global Warming)

APA ITU GLOBAL WARMING?

Global warming disebut juga dengan pemanasan global, yaitu adanya suatu proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi.


PENYEBAB GLOBAL WARMING


Polusi Karbondioksida berasal dari pembangkit listrik bahan bakar fosil – Ketergantungan yang semakin meningkat pada listrik dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil mengakibatkan semakin meningkatnya pelepasan gas karbondioksida sisa dari pembakaran ke atmosfer. Kebutuhan ini akan semakin terus meningkat setiap harinya. Sepertinya, usaha pemakaian energi alternatif selain fosil harus segera dilaksanakan.

Polusi Karbondioksida yang berasal dari pembakaran bensin untuk transportasi – Sumber polusi karbondioksida yang lainnya yaitu berasal dari mesin kendaraan bermotor. Apalagi, keadaan ini semakin diperparah oleh adanya fakta bahwa permintaan kendaraan bermotor setiap tahunnya akan semakin terus meningkat seiring dengan bertambahnya populasi manusia yang juga tumbuh sangat pesat. Dibutuhkan kesadaran setiap orang untuk beralaih memakai kendaraan atau transportasi umum, guna untuk mengurangi polusi yang disebabkan dari sisa pembakaran. Baca juga: Pengertian Polusi udara atau pencemaran udara secara jelas.

Gas Metana dari peternakan dan pertanian – Gas metana adalah yang menjadi penyebab terjadinya efek rumah kaca. Gas ini dapat bersal dari bahan organik yang dipecah oleh bakteri dalam kondisi kekurangan oksigen, seperti misalnya di area persawahan. Proses ini juga dapat terjadi pada usus hewan ternak, seiring dengan meningkatnya jumlah populasi dari hewan ternak, mengakibatkan produksi dari gas metana meningkat yang dilepaskan ke atmosfer.

Aktivitas penebangan liar pohon – Seringnya bertambahnya penggunaan kayu dari pohon sebagai bahan dasar, membuat jumlah pepohon kita makin kesini semakin berkurang. Hutan sebagai tempat pohon tumbuh semakin sempit akibat beralih fungsi, dan penebangan liar. Padahal, fungsi hutan sangat penting sekali sebagai paru-paru dunia dan untuk mendaur ulang karbondioksida yang terlepas di atmosfer bumi.

Efek rumah kaca – seluruh sumber energi yang terdapat di bumi berasal dari energi Matahari yang sebagian besar berupa radiasi gelombang pendek. Saat energi tersebut sampai di permukaan bumi, energi tersebut akan berubah menjadi panas yang dapat menghangatkan bumi. Tetapi tidak semua panas yang sampai di permukaan bumi akan diserap, sebagiannya lagi akan dipantulkan kembali ke luar angkasa. Akan tetapi sebagian dari panas yang dipantulkan tetap terperangkap di dalam atmosfer bumi sebab menumpuknya gas rumah kaca (seperti: karbon dioksida, sulfur dioksida, metana & uap air). Hal ini terjadi sebab gas-gas itu mampu menyerap dan memantulkan energi panas dalam bentuk radiasi gelombang yang dipancarkan bumi. Sehingga akibatnya energi panas tadi akan terus tersimpan di permukaan bumi. Proses ini akan terus terjadi dari waktu ke waktu, dan akibatnya suhu rata-rata di permukaan bumi-pun terus meningkat. Dimana model rumah kaca baik itu rumah, terutama gedung-gedung ataupun tempat yang memakai konsep bangunan kaca dapat memantulkan cahaya ke udara/atmisfer, bukannya menyerap sinar matahari. Sehingga dampak dari konsep rumah kaca sangatlah berpengaruh terhadap pertambahan serta peningkatan pemanasan global. Sebenarnya masih banyak faktor penyebab dari pemanasan global dan itulah beberapa diantaranya.

(Ancaman ini sungguh mengerikan, naiknya permukaan laut, menyebabkan ratusan pulau kecil di Indonesia menghilang)


(Info dari wikipedia Indonesia menyebutkan)

Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia" melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.

Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100. Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca pada masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini mencerminkan besarnya kapasitas kalor lautan.

Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrem, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.

Beberapa hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi pada masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.

(Mari Bantu Sebarkan, Kampanye ANTI KERUSAKAN LINGKUNGAN)

Tidak ada komentar