loading...

HEADLINE

PUISI PUISI ENDANG A

Redaksi menerima tulisan
Puisi minimal 5 judul, Esai, Cerpen untuk kami Siarkan setiap hari. Semua naskah dalam satu file MS Word dikirim ke e-email: majalahsimalaba@gmail.com
beri subjek_VERSI ONLINE
(Mohon maaf, laman ini belum dapat memberikan honorium)


PUISI PUISI ENDANG A


ATAS NAMA BANGKAI MALAM

Anak senja
bertelanjang dada
ia piatu setelah yatim
menaruh mimpi yang berserakan.

Antara utuh atau menghilang
dimamah gersang tanah
apakah wujud tangisnya berujung mati,
sedang pekik di kerongkongan nyeri
jeri menahan luka duniawi.

Tumpul, kala ia merapikan abu
pada anggan yang lahirkan jerebu
tatkala lara mengais hidup
sedang yang ia tahu
adalah hampa di genggam dua rapuhnya.

Jakarta, 30 September 2017.

TENTANG BAITMU

Aku merangkai sajak 
serupa mengadu
perihal angan
yang gemar bertukar mimpi.

Setibanya di muka pintu
terpelanting
hasratku piatu
dalam mengeja baitmu.

Siapakah aku?
yang rela mengering 
di makan zaman
seikhlas kepompong.

Jangan tanyakan wujud
matamu tak setajam serigala
walau hancur berkeping
tetaplah aku si burung gagak
yang tak pernah lupa berceloteh tentang malam.

Derasnya hujan
sudah tak asing
bahkan kurindu
untuk sama sama merenung
melepas jalur sesak
untuk termitoskan.

Jakata, 12 Oktober 2017.

MENGUPAS JALUR

Kami kelaparan
di tubuh bumi
yang terpijak
bersama lahan lahan di mana riwayatnya telah usang.

Lama kita berpisah
dengan wajah sajak
menua di pelataran waktu
tanpa mencari jawaban 
dari hasil kebodohan kemarin
hingga tulang belulang memenuhi desa
dengan ketidakberdayaannya.

Wahai duri duri yang gemar menghancurkan harapan
pahamilah detak kami mampu menumbangkan
keserakahan dan ambisi
lalu memulangkan cerita
dengan tanduk kehancuranmu.

Probinggo, 13 Oktober 2017.

CANDIK

Belajarlah pada catatan kemarin
semisal terbelenggu
di muka pintu
maka temukan kunci dan bukalah raut bebas pada kelopak matamu.

Bukankah engkau tercipta bukan hanya untuk menjadi riwayat gelap?
yang selalu batal untuk menjadi sepasang resmi
pada jalur yang semestinya.

Lepaskanlah sajak sajak pilu
arahnya macet di tengah perjalanan
lalu siasatilah kehidupan
di mana bahagia dapat terkalimatkan 
pada bibir tipis bergincu
tanpa sedikitpun gelisah menimbun hati.

Probolinggo, 14 Oktober 2017.

DI JALAN AMPERA

Pernah sekali
tubuhku pecah
di trotoar bising
dengan perdebatan panjang tanpa hasil.

Waktu itu, di jalan Ampera
sebutir debu tersapu hukum
melahirkan cemas, di antaranya.

Kita sama sama mengetahui arti seragam adil
di mana tugas teremban
pada bahu kejujuran
sebab lama menunggu hasrat untuk memahami jalur
yang menjadi sejarah 
ketika sebuah nurani terjual dengan kemilau morgana
sungguh aku terpelanting
tanpa alamat 
memulangkan kembali riuhku pada keadilan.

Probolinggo, 15 Oktober 2017.

MENAKLUKAN DUNIA BISING

Adalah ia
camar liar yang gamang
di pesisir
bersama biji doa dalam sujud.

Lalu bertikai dengan mimpi
tanpa memandang diri
yang utuhnya tubuh tak terbilang.

Kemudian-

berevolusi
membentuk kerangka
hingga berdiri, menaklukan dunia bising
yang semestinya tanpa perdebatan panjang
sebab kita sama sama dari kumpulan asin
walau wujud tak serupa.

Jakarta, 9 Oktober 2017.

DINI YANG DIAM

Aku terjebak macet, di jalurmu 
dengan mata basah
tanpa sehelai harapan di antaranya.

Lalu mencoba berdamai dengan hati
di mana riuhnya kuheningkan
walau hujan semakin deras di pelupuk mata.

Dini ini menjadi ruang sunyi
embun embun misteri menguap naik
cahaya terik mulai membakar
dan jantungku masih baik baik.

Probolinggo, 13 Oktober 2017.

           PETANG GELISAH

Duhai matahari yang muncul di balik pintu
aku masih di sini
bersama kumpulan asin
yang melahap roda kehidupan
penuh kabut noda 
sebab kesukarannya meraba pintu.

Probolinggo, 13 Oktober 2017.

    MALAM PENGAKHIRAN

Nikmatmu, Ya Allah
membubarkan riwayat gelap
untuk menyetubuhi jalur
yang hampir tergeletak mati
dalam punuk puisi

Kemudian-

pintu begitu mudah terbuka
memulangkan tubuhku
pada kota kelahiran
yang hampir saja tak tersebutkan.

Betapa riuhku dalam doa telah terijabah
menghadirkan senyuman
pada seraut wajah mendung seharian ini.

Probolinggo, 13 Oktober 2017.


HENING SEROJA

Ia memilih menyendiri membawa puluhan tangis
menakar tubuh dari kerapuahan 
tidak untuk mati atau menyudahi fana
inilah aku...
Riap riap debu di kaki darah

Mungkin caraku salah, namun aku memilih semua dalam penjelasan
tanpa lagi mengantungkan jiwa di ranting  kapas
biarkan aku dalam sentuhan 
layaknya manusia, yang mampu bersiri menukangi nirwana
bukan lagi bocah kecil yg bisa dimainkan.

Jakarta, 16 Oktober 2017.

OKTOBER MENANGIS

Oktober membisu di bibir tebing
Penanya menusuk luka dalam samudera lepas
Dan malam makin kelam
Helaiannya berupa kalimat bualan

Terlukis Senja
Di kelopak malam
Penghias debu
Di antara kejora
Kemudian riuh
Tanpa jeda
Di lautan api ini
Sedang kumbang mengeja bahasa malam

Demi purnama dia koyak di makan api
Lautan bising penyuara kehampaan
Dan aku lelahnya mengeja ruangan
Hingga timbulkan hening
Yang muaranya melipat dangau

Probolinggo, 14 Oktober 2017.

Tidak ada komentar