loading...

HEADLINE

PUISI PUISI IVAN AULIA (Surabaya)_Tidak Akan Menyebut Mimpiku

Redaksi menerima tulisan
Puisi minimal 5 judul, Esai, Cerpen untuk kami Siarkan setiap hari. Semua naskah dalam satu file MS Word dikirim ke e-email: majalahsimalaba@gmail.com
beri subjek_VERSI ONLINE
(Mohon maaf, laman ini belum dapat memberikan honorium)

PUISI PUISI IVAN AULIA

Tragedi Oktober 2017

Musibah di balik oktober
Menimpa Gunung Agung meletus
Menurunkan hujan abu sebar ke berbagai wilayah
Nafas hampir sakit
Sedangkan masyarakat hanya ketakutan
Mencoba untuk larikan dari radius jarak jauh
Mengusar hampa
Memilu resah
Adakah masih betah di pengungsian
Masih sekarang belum pulih pada kejadian di Gunung Agung

Sedangkan ada penembakan massal
Yang menewaskan ratusan jiwa
Dilarikan di Rumah sakit
Lalu apakah Oktober sebuah tragedi belaka
Menjelang sumpah pemuda yang menjiwai bangsa
Inilah keadaan genting
Bagaimanakah negara ini seharusnya di jaga
Malah justru menjadi sorotan terbaru
Setelah mengincar komunis pada 30 September

Kemudian terjadi lagi yang mungkin memalukan bagi negara
Amukan massa merusak kantor Kementerian Dalam Negeri
Oleh masyarakat Tolikara
Sebab tidak puas memenangkan pemilu di Tolikara
Masih ingat kejadian membakar Masjid
Bagaimana tidak Presiden hampir resah
Atas menimpa kegaduhan di negeri ini
Ku mohon jangan buat kerusuhan
Terbitlah kedamaian
Jangan mengamuk
Seperti setan mengeluarkan hujan api
Ke dalam emosi manusia yang mengilir kegaduhan di Negeri
Tragedi Oktober apa masih terjadi?
Sebelum melenyapkan pemuda dalam merayakan sumpah pemuda
Untuk bangkit dari amukan massa

Surabaya, 2017

Sujud Syukur Di Tengah Turun Hujan

Ku lepaskan atas syukur kepada karunia tuhan
Lembabkan murni suci dalam kandungan
Pedoman manusia telah diterima oleh Allah
Melalui sebuah kalbumu
Dan turun hujan telah selimut kota
Alangkah indahnya awan hitam mendatangkan berkah
Sedemikian rupa hendak sujud syukur di tengah jalan
Sungguh tuhan apa yang telah melimpahmu
Dalam semesta alam serta muliamu
Seruan hampa yang tersentuh namamu dalam gapaian agung
Namun apa jadinya bila menerima petunjuk yang kamu sertai itu
Senantiasa lengkungan ridho di sisimu

Tuhan
Terima kasih atas pelimpahan karuniamu
Senantiasa manusia semerbak air gemercik pada hatimu
Serahkan diri kepada Allah
Inilah yang disebut kekuatan iman
Dalam lahir dan batin
Sungguh apa yang telah diraih
Akan membawa berkah
Mendatangkan hadiah dari Allah
Semua akan tersentuh cahaya putih
Di rentang langit dan bumi

Sujud syukur
Terima kasih tuhan
Yang telah mempermudahkan anugrah semesta
Dan senyuman yang cerah
Senandung surga telah menantimu

Surabaya, 2017

Tidak Akan Menyebut Mimpiku

Jujur tidurku kurang nyaman
Apalagi seruan dimensi alam
Dan keriuhan resah seperti apa yang telah dialami itu
Saat mimpi nyenyak
Tidak bisa bangun
Melainkan terjebak dalam kesesatan
Sungguh tersimpan keruhan hampa dan retak di sepanjang masa
Satukah keajaiban walau sudah tiada yang bangkit dalam tidurku

Meski kurang diamati
Ia rela mengambil kodrat selimpah Akal
Ia pasti mengepuh batu
Dan melesap di pati
Sedangkan apa yang menimpanya
Senantiasa menyebut mimpi yang terarus
Gelombang melesap
Lalu bangun jika sadar

Surabaya, 2017

Jangankah Politik Negara

Seperti politik reformasi
Yang menelaah negeri ini
Menguras lisan dan pendapat
Retak semerbak pada jantung kota
Mengebah skenario hukum
Sepintas apa yang telah dimungkiri
Setelah merayakan TNI
Gatot berkata bahwa tiada berbicara politik negara
Memajukan bangsa dan negara
Tiba tiba Gatot pensiun dari Panglima
Untuk menuntut keadilan

Politik Negara hanya berurusan dengan lindungan hukum
Yang berkobar demi jawaban milenial
Saat ini ormas melecehkan pancasila
Hizbut Tahrir di hapus
Namun bagaimanakah urusan masa depan
Tanpa mengetuk pintu solusi
Bongkar kebiasaan ujaran kebencian
Yang memfitnahkan negara tanah air ulah hoax
Jangankah politik negara
Suatu saat pemilu 2019
Terhindar segala ancaman pada negara ini

Surabaya, 2017

Takdir Manusia

Prediksi yang tak bisa ditunjukan
Ketika mengajak bersama pada hari terakhir
Sebelum hendak meninggalkan kenangan
Berantakan di situasi handal
Yang pelajari hanya kata-kata
Memang kamar gelap tidak lagi di huni

Jatuh di sembarang tempat
Kain terserembak pasir waktu
Tubuhku penuh babak belur
Tubuhku terdapat luka
Tubuhku penuh penderitaan
Hancurlah sudah bumi terbelah oleh samudra
Segala ancaman yang tertanam dalam kiamatmu
Rentangkan tangan

Sebelum sangkakala memusnahkan suasana
Hening selamanya
Takdir adalah ketimpangan terakhir
Rugilah bagi pendosa
Daripada kelak membelenggu ilmu dan agama
Boleh memeriksa di dunia
Sayangnya sudah meniup matamu
Seakan-akan terbesuk di wajahmu
Entah tercekam sirna
Takdir manusia sebelum kehendak tuhan

Surabaya, 2017

Catatan Milenial

Teknologi masa depan
Dibekali modal dan kehidupan
Entah sentuh gadget
Sementara wajah sosial disebarluaskan
Kabar bohong mulai tercentang
Dugaan besar dibongkar
Peristiwa terbengkalai sia-sia
Seakan-akan gelap membalut kepedihan suasana

Takut merendam situasi bolong
Ibadah begitu bolong
Euforia merajai emosi
Kaya terdampak di situasi genting
Tergempur kesedihanmu
Belum ada satupun yang setara perkembangan zaman
Seakan-akan milenial menjadi takdir terakhir
Seumur hidupmu

Surabaya, 2017


Tentang M Ivan Aulia Rokhman: Lahir di Jember, 21 April 1996. Mahasiswa Universitas Dr Soetomo. Karyanya dimuat di koran lokal dan Nasional. Beberapa puisinya juga dimuat dalam antologi Bukan Kita (2017), My Teacher (2017), Syair dalam Nada (2017). Bergiat di FLP Surabaya, dan Komunitas Serat Panika. Ia Seorang Penulis ditengah Berkebutuhan Khusus. Tinggal di Jalan Klampis Ngasem VI/06-B, Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur, 60117

Tidak ada komentar