loading...

HEADLINE

PUISI PUISI KARYA S KAMALUDIN (Lampung Barat)_Tentang Kita

Redaksi menerima tulisan
Puisi minimal 5 judul, Esai, Cerpen untuk kami Siarkan setiap hari. Semua naskah dalam satu file MS Word dikirim ke e-email: majalahsimalaba@gmail.com
beri subjek_VERSI ONLINE
(Mohon maaf, laman ini belum dapat memberikan honorium)


PUISI PUISI KARYA S KAMALUDIN

ISYARAT 

Tersenyumlah, Fi
kau telah menatap dunia
terlahir dari rahim jelata
dalam pondok kekata ganjil
indah nan sulit di mengerti.

Kini kau beranjak remaja
buah kasih tanpa pamrih
dari jejak setiap kata.


Lihatlah di ufuk barat
warna merah tanda akhir senja
pun tenggelam di bukit kepekatan
sebagai isarat perpisahan.

Jangan menangis atau meminta
turut serta, tunggulah di sini
sebab purnama akan menemani.

Mungkin esok kau akan menemukan sinar matahari
seperti kemarin
yang sebenarnya bukan, Fi.

Way Tenong, 18 Oktober 2017.


RINDU DAMAI ABADI 

Lautan angkara memuai
menjadi segumpal awan keji
hujan amunisi kau
anggap hiburan sepi
tanpa menghiraukan pri kemanusiaan.

Jerit tangis kehilangan
nyawa meregang tanpa jeda
kau anggap kepuasan
sungguh memilukan.

Marilah sejenak kita renungi
suara hati yang suci
bukan iri atawa dengki.

Sesungguhnya alam rindu kedamaian
bagai telaga bening tak berlimbah
seperti camar terbang bebas di muka samudera.

Jangan lagi ada letupan letupan
bersuara murka bertebaran merenggut nyawa
hamba Tuhan yang tak berdosa.

Mari saudara, insan penghulu semesta
kita bergandeng tangan
saling memberi tanpa mengurangi.

Kita sudahi pertikaian ini
tak perlu ada darah mengalir lagi
membasahi wajah bumi
aku rindu kedamaian abadi.

Way Tenong, 13 Oktober 2017.


NASIB CINTAKU 

Mawar kubawa layu sebelum senja
rindu kupikul buyar dalam lamunan
cinta kujaga berpindah tangan
kasih kubina terdulang angan
itulah kisah aku kesepian,

Way Tenong,  17 Oktober 207.

KANDAS 

Sehelai rasa telah terkebutkan
jauh di perbatasan  negeri
sekelumit risalah hati
tentang segenggam harapan.

Namun, kandas sebelum mendarat
tergulung badai pengetahuan
layangsara melenting di tong-tong sampah
dan lumat di ti bjkam waktu.

Way Tenong, 16 Oktober 1017.

TENTANG KITA 

Biarlah aku datang sekdar singga
bukan harus duduk di sopa merah
di teritis istanamu aku sudah bahagia.

Aku diam dalam seribu cerita
aku terbaring berslimut luka
dan, telelap bantal lara.

Karna sunggh tak rela,
enkau hadir dalam mimpi indah, wahai petaka jiwa.

Way Tenong 17 Oktober 2017


Tentang S Kamaludin: tinggal di Way Tenong Lampung Barat. Ia belajar menulis di komunitas sastra maya (KOMSAS SIMALABA) yang di asuh oleh beberapa crew majalah SIMALABA.

Tidak ada komentar