loading...

HEADLINE

PUISI PUISI MAULA NUR BAETY

Redaksi menerima tulisan
Puisi minimal 5 judul, Esai, Cerpen untuk kami Siarkan setiap hari. Semua naskah dalam satu file MS Word dikirim ke e-email: majalahsimalaba@gmail.com
beri subjek_VERSI ONLINE
(Mohon maaf, laman ini belum dapat memberikan honorium)

PUISI PUISI MAULA NUR BAETY 



SAR'IN 

Nama itu!
Melumat dinding luka, akan situasi
yang menjalar pada sesal, hingga
tidak melihat untuk terakhir kali.

Satu orang, namun banyak yang punya.
Ya, sebabnya nama dia (Kakek) kami
para cucu dan mantu.

Air mata, tak mampu mewadah segala
sesal pada waktu yang tidak mengizinkan untuk bertemu
sedetik pun, hingga telah di tempat jauh
ujung sana.

Tuhan---
sampaikan salamku pada seseorang
bernama Sar'in.

Jakarta, 15 Oktober 2017.

BAHASA IBU 

Lagi, dan lagi Ibu membicarakan
rumitnya jarak dan waktu, namun
tidak tahu kemelutnya sebuah rasa.

Selalu saja, membinasakan rasa andai
bahkan begitu banyak yang di jabarkan
tentang kekhawatiran.

Baiklah---

bahasa ibu akan aku pinjam, dan
kuputar kembali rasa sesak yang sama.

Jakarta, 15 Oktober 2017.

JAKARTA BREBES

Masih terlalu dekat, untuk di elak tentang
jauhnya jarak. Hanya beberapa jam pun
tiba dengan selamat.

Tak perlu ada pemikiran, sesat sebabnya
luas Jakarta masih bisa ter-telusuri walau dari Brebes.

Jakarta, 15 Oktober 2017.

NYAMUK DAN ANAK JALANAN 

Malam dunia paling sepi dan damai,
untuk terlelap selepas penat bekerja.

Namun malam juga pertikaian, yang
tak bisa dihindari bagi anak jalanan.
Ia harus bertengkar dengan pemilik toko,
kala pagi, ia harus berciuman kulitnya
dengan nyamuk. Bahkan ia harus mandi
dinginnya angin malam.

Tidak ada tempat, untuk kembali
hanya do'a dari mulut yang jarang
dibersihkan dengan benda-benda berduit.

Jakarta, 15 Oktober 2017.

HUJAN DAN ANAK JALANAN

Masih terlalu pagi, untuk tidak melangkah menyusuri keindahan Tuhan. Bahkan tidak mungkin mengabaikan segala kenikmatan-Nya melalui cara dan jalan sendiri-sendiri.

Aku gundah, aku dilema, aku bimbang, aku takut dan selebihnya rasa yang ada. Bisakah dengan menatap hujan semua reda tersiram rerintik yang melalui lubang atap.

Apakah dengan menonton cerita rakyat,"Malin Kundang atau Timun Mas" atau yang lainnya bisa hilang.

Akhirnya, berjalan lambat. Menilik rona pelangi selepas hujan, membingkai segala keramaian jalan. Dan menemukan kuasa Tuhan yang terabaikan.

Bagi anak jalanan, hujan adalah musibah
dan anugerah dari Tuhan. Bisa mandi gratis, tanpa bayar air, namun susah mencari duit kala hujan.

Jakarta, 15 Oktober 2017

Tentang penulis: Maula Nur Baety tinggal di Lahir di Brebes, Jawa Tengah. Dan bekerja di Jakarta.


Tidak ada komentar