loading...

HEADLINE

PUISI PUISI NANANG R

Redaksi menerima tulisan
Puisi minimal 5 judul, Esai, Cerpen untuk kami Siarkan setiap hari. Semua naskah dalam satu file MS Word dikirim ke e-email: majalahsimalaba@gmail.com
beri subjek_VERSI ONLINE
(Mohon maaf, laman ini belum dapat memberikan honorium)


PUISI PUISI NANANG R


AKU BUKAN BATU

Aku tak pernah menjauh
dari janji yang telah
terucap antara aku juga hatimu
yang perlahan kau anggap membatu.
Aku bukan batu.

Surabaya, Tanjung Perak 05 Oktober 2017.

PERIHAL MENYAKITKAN

Aku juga kamu
terlahir bukan untuk menghitung langkah tentang pejuangan,
lalu menghitung-hitung
perihal menyakitkan yang menjadi embun yang selalu meleleh ketika malam
dan siang menjadi asin yang tak pernah di rencanakan.

Tentu akan banyak hal
yang terkelupas dan bahasa yang tak seharusnya
terucap akan berlarian dengan liarnya
membanjiri pikiran yang seharusnya tak terjadi.

Kekasih yang menjadi benci
cinta yang menjadi caci
atau sahabat yang menghianati
tak perlulah ini terjadi.

Surabaya, Tanjung Perak 15 Oktober 2017.

KUPU KUPU YANG MENJADI JALANG

Tak seperti dulu,
ketika kumbang
selalu menyapa
dengan manisnya madu
yang setiap pagi ia suguhkan
dengan senyuman.

Sejalan dengan waktu
kian mengelupas menjadi takdir
kupu-kupu lugu kian tergelincir
menjadi jalang
kini ia lekat dengan udara malam
tembakau juga minuman.

Surabaya, Tanjung Perak 15 Oktober 2017.

SAJAK CAMAR

Akulah camar,
dari sekumpulan yang terbuang
paruhku tak lagi tajam
mataku tak lagi jalang.

Ketika siang tempatku
di rongga karang
menghabiskan sisa waktu
dengan deburan dan aku tak lagi bersiul.

Aku tak seperti kunang-kunang
bila malam bercumbu dengan lampu taman
banyak yang menyebutnya bintang jalanan,
sedang aku tak punya julukan.

Atau koloni umang-umang
bermain dengan lembutnya pasir
dan anak-anak ombak yang mengus
bergantian.

Temanku hanyalah awan,
ketika mengitari biji mataku dengan lentiknya
atau senja yang menjemput
nelayan hingga umpan meroket lalu menghujam lautan.

Aku adalah camar.

Surabaya, Tanjung Perak 17 Oktober 2017.

BUKAN KULIT KACANG

Suaranya kian lantang
ia selalu hadir di barisan
terdepan
lalu ia ceritakan perjuangan
dengan siulan,
yang sebenarnya terkapar.

Jika malam ia meraba,
menjelajah kata yang
selalu abu-abu
lalu di junjung dengan pujian
ia bagai kapas hingga terbang.

Kini ia menjadi polah
yang lupa jalan pulang
dan camar-camar riuh
seraya berkata
ia bukan kulit kacang

Surabaya, Tanjung perak 17 Oktober 2017.

Tentang Nanang Romadi: Ia tinggal di Banjarnegara Jawa Tengah. Bergabung aktif dalam forum sastra ( KOMSAS SIMALABA) karyanya dimuat dalam antologi EMBUN PAGI LERENGI dan MAJALAH SIMALABA versi cetak serta online.

Tidak ada komentar