loading...

HEADLINE

Riduan Hamsyah_SECANGKIR KOPI

SECANGKIR KOPI
Oleh: Riduan Hamsyah


Mengapa kita selalu bertikai, Yunika? Padahal hari masih begitu pagi. Di luar jendela langit remang remang. Dan masih ada sisa bintang. Fajar sedang bersolek seperti gadis tani yang akan berangkat ke ladang. Ya, Seorang anak peladang lebih tepatnya. Di kampung ini seorang gadis yang kedua orang tuanya berprofesi sebagai petani atau peladang mesti ikut serta ke ladang merasakan juga asinnya matahari keringat yang mengalir di dahi dan aroma hanyir tubuh kedua orang tua dari balik caping bertengger jadi mahkota kebesaran sepanjang tahun. Sebagai anak petani atau peladang ini, setelah dewasa, dengan usia tujuh belas tahunan, mesti turut juga merasakan jerih payah di semak rerumpun tebu membuang jauh jauh rasa gengsi yang memamahbiak dalam jiwa anak anak muda negeri saat ini.

Sebuah jiwa yang tergerus pastinya. Peradaban smartphone yang membuat semua orang terbang meninggalkan rumpun kesilaman mengkhayati romantika waktu dalam layar petak umpat dan game-game online menyuguhkan alternatife hidup digital dan fasilitas basa basi, dan mau tidak mau, suka atau tidak suka aku mesti terjebak pula pada sebuah pemukiman suku maya yang sebenarnya. Sebuah pemukiman yang sangat multi tafsir tempat perasaan mudah sekali salah paham ketika nilai kebenaran berwarna abu abu.

“Yunika, tolong buatkan aku secangkir kopi!”

Ya, fajar baru saja hendak terbit, Yunika. Ia sedang berhias seperti seorang gadis tujuh belas tahun. Membasuh wajahnya dengan air pembersih beralkohol mengusapnya dengan kapas menguasnya dengan cream pelembab menaburinya dengan bedak beraroma tradisional orang orang kampung yang cuma dibeli di warung sebelah rumah. Harganya di bawah sepuluh ribu perak, Yunika. Tetapi seperti gadis peladang, fajar yang cantik itu, mesti ke ladang. Menyusuri jalan jalan bersetapak tanpa alas kaki menutup rambutnya dengan kerudung selempang warna yang tak lagi terang sebab dipakai bergantian dengan sang ibu selama bertahun waktu. Tetapinya lagi, fajar ini, seperti perempuan semestinya ia mesti bersolek pula, seindah mungkin tentunya sebab sebagai gadis yang sedang bunga itu Ia memiliki juga sebuah sudut perasaan atau juga lebih tepatnya keinginan selembut kelopak pada bunga dengan aroma bercampur embun bersiap menyambut cahya pagi dengan kuntum menari menarasikan bahasa tubuh yang Ia sendiri tak paham benar bila sesungguhnya hidup akan tiba pada sebuah sudut dimana sepasang bola mata atau juga berpasang pasang bola mata sepanjang jalan bersetapak itu, menuju ladang tebu itu, akan menghakimi seluruh penjuru tubuhnya. Adakah Ia juga adalah kuncup yang sejatinya ingin melemparkan eksistensi kepada dunia bahwa kehadirannya telah berangkat menjadi bunga mungkin mempesona berpasang pasang bola mata sepanjang perjalanan ke ladang. Cuma jalan ke ladang. Mungkin sebatas itu saja. Ya, perjalanan ke ladang, bagi seorang gadis yang sedang bunga itu adalah sebuah tualang. Sungguh, sebuah tualang yang menggemaskan karena semua perasaan ada di situ. Rasa gagap mengenal dunia yang masih begitu pagi bahkan masih remang remang di luar pintu jalan setapak tak berpenghujung linglung merasakan kehadiran sentuhan udara begitu ganjen pada kulit, pada wajah, pada kerudung yang selempang di kepala dengan warna tak lagi terang, pada telapak kaki tak beralas pada penjuru dada yang masih begitu muda denyarnya ketika melawan tatapan sesuatu yang menarik di seberang pandangan.

Tetapi langkah kedua orang tua beberapa depa di depan mesti Ia turut dari belakang, dan Ia tidak boleh membiarkan kedua orang yang sangat dihormati tersebut berjalan sepasang saja menuju ladang mereka. Menuju rumpun rumpun tebu. Menuju desau angin bergemericik menabuh ngilu daun daun saling bersentuh bersautan mencipta irama serta romansa begitu dinamis sepanjang hari, sepanjang waktu, sepanjang kesepian yang tiba tiba saja menyerang gadis itu pelan pelan memukulnya sedikit demi sedikit. Mengajarkan begitu banyak bahasa sepi yang bicara. Memahami bisikan bisikan aneh yang sembunyi di balik rimba raya dada.

“Engkau, mesti belajar merasakan sulitnya hidup..!” ucap ayahnya suatu ketika.

Dan Ia mencatat kalimat itu dengan baik pada sebuh lipatan di balik pikiran. Juga di rimba raya dada. Hai, dada, sebuah penjuru yang begitu gampang tergetar akhir akhir ini agak berasa aneh. Sangat aneh, memang.

“Tetapi, ruas-ruas tebu ini, bukan kita yang memeras manisnya, Ayah..!”

Suatu hari pula, Ia pernah mendebat.

“Huss, anak gadis, tidak boleh banyak protes.”

Ibu kemudian menjawab. Sekaligus memberikan vonis yang absolut.

*******

Mengapa kita selalu saja dan masih saja bertikai, Yunika? Padahal hari masih pagi. Mestinya engkau menyuguhkan secangkir kopi semangkuk senyuman dan mengatakan kepadaku bahwa fajar tengah menuju kita. Gemulai serupa gadis tujuh belas tahunan tersenyum sipu malu malu menyembunyikan segala debar sepanjang jalan bersetapak menyusuri begitu banyak liku dan kelok kelok yang kadang tak tampak tetapi begitu menyesak ketika Ia sampai pada detaknya mengombak mencipta debur yang pecah di pasir pasir. Maaf, Yunika, aku tidak sedang mengajakmu bercerita tentang laut tetapi tentang fajar yang perlahan menghampiri kita dengan cahya yang begitu lembut kemudian menghangat menjelajahi tubuh kita pelan pelan sesekali membawa kita pada romansa music berdesik di ladang ladang tebu sepanjang jalan pernah kau lalui pernah kau rasakan romantisme hidup dalam ranah waktu memukul kita saat ini sehingga terlempar diri kita dari kesilaman yang dengan biadab kemudian kita sebut kenangan. Hai, hai, betapa biadab kita ini, Yunika!

KENANGAN sebuah kalimat yang larat. Suatu ketika seseorang pernah berkata pada kita bahwa (semua yang kita rasakan ini) akan melarut sebagai kenangan. Tetapi hari masih sangat pagi, bahkan teramat pagi, di luar pintu ada remang menjemput terang dengan fajar gemulai melangkah pelan tapi pasti seanggun langkah seorang gadis tujuh belas tahun berayun menuju sebuah ranah yang membuatnya dipukul oleh rasa gelisah. Rasa sepi yang aneh. Ia menyembunyikan perasaan itu tetapi kerap pula memeriksanya untuk memastikan bahwa seluruh perempuannya masih berada di situ bermukim dalam musim musim yang berangkat disapu angin berdesau di ladang ladang tebu.

Kenangan, adalah sebuah bait yang kadang berasa pahit pada puisi puisi kita yang mengalir ke hilir menyembunyikan banyak narasi tentang kabut, tentang hujan, tentang senyum yang tak lagi ranum tentang seberangmu dan juga seberangku tentang embun tentang hari yang masih pagi tentang fajar tentang jalan bersetapak dan banyak sekali tentang sepi, bahkan tentang biografi secangkir kopi. Engkau belum juga menyuguhkannya, pagi ini, Yunika. Dan pertikaian. Kenapa kita mesti bertikai, wahai, perempuan. Bukankah hari ini baru hendak kita mulai mestinya dengan semangkuk senyum mengantar puisi puisiku berenang ke terang siang meninggalkan rasa dingin yang masih memenjarakan kita pagi ini. Kapan sebenarnya kita akan terbebas dari gerhana yang menenggelamkan sesabit bulan mengakhiri dentam yang sebenarnya tak ingin kuteruskan sebagai luka.

“Kopinya, diminum!”

Hai, akhirnya Ia menyuguhkannya. 

Yunika, tetapi kukira kita masih tetap bertikai. Bahasa diplomasinya tidak begitu renyah. Sebab setelahnya Ia tenggelam ke balik kain gorden dan menggeplak pintu kamar. “Prak!” Dan, hari perlahan terang. Secangkir kopi. Pagi ini. Bagiku sebenarnya adalah sebuah biografi kedamaian sekaligus sebuah perdamaian. Sudah jengah rasanya menyaksikan orang orang saling baku hantam di layar telivisi. Mengatasnamakan tuhan kemudian membunuh tubuhnya di pusat keramaian dengan kabal-kabal rakitan yang memicu bahan perpeledak. Orang-orang yang kurasakan gagal menyampaikan hakikat sebuah kebenaran ke balik batinku. Sebab aku sangat benci pertikaian. Tidakkah kedamaian itu selalu bisa diselamatkan. Dengan secangkir kopi. Dengan duduk bersama dan, Yunika, kita belum juga menemukan kata sepakat untuk berdamai dari sebuah pertikaian panjang yang melelahkan ini. Ada sebuah rasa jenuh mengejarku. Tetapi aku berhasil membunuhnya. Sebagai lelaki aku harus memulai lagi sebuah nota perdamaian dengan perempuan sebab aku paham benar bahwa seorang perempuan adalah sebuah sudut ketika bahasa tubuh harus selalu diisyarakat untuk mengawali sebuah perundingan.
*******

“Apa yang hendak kau ceritakan tentang secangkir kopi, Yunika?”

Sekali lagi. Sebagai lelaki aku mesti bisa mengawali sebuah diplomasi.

Tetapi Ia masih diam.

“Adakah aku belum mengatakan sesuatu padamu?”

“Kau, telah berulang kali mengatakan itu padaku.”

Ia diam lagi.

“Lalu?”

“Lalu, sebaliknya, apa pula yang engkau pikirkan tentang fajar yang baru saja berlalu?”

“Hai, hai, Yunika! Mengapa engkau menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan pula?”

“Tetapi jawaban atas pertanyaanmu ada di balik lipatan pertanyaanku.”

Hening.

“Baiklah, Yunika, aku akan menjawabmu,”

Fajar yang baru saja berlalu. Adalah gadis tujuh belas tahun yang baru saja pergi. Ia mengirimku aroma bunga yang kuntum pada kesilaman yang membuat kita menjadi biadab karena telah menyebut segala yang berlalu itu bernama KENANGAN. Tetapi aku tidak sedang mengajakmu merantau jauh benar pada denyar yang mengombak ke penjuru dada tidak pula menceritakan tentang laut dan debur di pasir-pasir walaupun sebenarnya kita begitu merindukannya. Fajar itu adalah gadis manis di sebuah kampung dengan aroma bedak murahan yang dibeli di sebuah warung kecil samping rumah. Sungguh indah gemulainya dengan kerudung menyelempang di kepala hingga ke bahunya hingga menyisakan sedikit saja wajah dengan senyum ranum menyusuri jalan bersetapak tanpa alas kaki menuju ladang tebu. Gadis peladang yang lugu. Dengan aroma bunga bercampur matahari, tetapi aku menyukai itu, Yunika. Dan kita dalam sebuah kehilangan yang besar karena telah membiarkan fajar itu merantau ke sebuah ranah entah meninggal detak yang sesak oleh pertikaian berlarut sepanjang tahun.

“Tetapi bukankah dirimu yang telah membawa aku pergi dari jalan bersetapak itu?!”

“Tidak, Yunika!”

“Hai, dengan bahasamu yang penyajak itu, kemudian engkau terus mempertahankan prinsipmu?”

“Yunika, sadarlah, aku hanya membawa perempuanmu pergi dari ladang ladang tebu itu tetapi tidak meninggalkan jalan bersetapak itu.”

“Maksudmu, engkau membawa serta semua itu bersamaku?”

“Ya.”

“Hemm, engkau membela diri lagi. “

“Tidak, Yunika.”

“Pintar benar bahasamu, penyair!”

Kurapikan kemelut ini dengan meraih secangkir kopi. Buatan Yunika. Dan, aku memperlihatkan kepadanya betapa nikmat puisi terbaik yang disampaikannya kepadaku pagi ini adalah secangkir kopi. Aku ingin memperlihat kepadanya bahwa sebenarnya lelakiku sangat menghargai karya seorang perempuan. Teguk demi teguk yang kusentuh adalah persenyawaan dari rasa pahit yang nikmat, sebuah bahasa yang sudah begitu lama ingin kusampaikan pada naluri perempuannya.

“Yunika, jalan bersetapak itu retak, dan kita menggasing pada dua arah yang tak saling menggapai. Hari masih begitu pagi walaupun fajar itu telah pergi. Kukira seberangmu dan seberangku adalah tiang-tiang dermagalah yang memahaminya!”

“Tetapi bukankah dirimu, Penyair, yang sejak lama membawaku pergi? Bermukim pada bait bait puisimu lalu menjungkir balik-kan fakta otentik ke dalam kiasan dan majas majas yang meracuniku.”

“Yunika, jalan bersetapak itu, kukira engkau masih berada di situ..!”

“Lalu, siapa perempuan yang bernama ROSYIDAH itu?”

Kembali kureguk kopi di depanku. Bahasa diplomasiku mulai guncang.

Ingin benar kukatakan kepadanya bahwa ada belasan nama Rosyidah yang tumbuh di dadaku. Menggantikan rumpun-rumpun tebu itu tetapi percuma. Jalan bersetapak itu tampaknya telah berlalu dari asumsinya tempat usia tujuh belas tahunnya pernah melintas dengan telapak kaki tak beralas menuju ladang tempat sebuah konser dedaun saling bergesekan disetubuhi angin sepanjang hari sepanjang waktu sepanjang musim dan sepanjang kemungkinan yang disapu kesilaman. Ia telah merupa begitu banyak nama saat ini dikuas dengan cream dan bedak berharga pantastis diracuni kamera ponsel yang membuatnya menggandrungi peradaban selpie. Sulit mengembalikan Ia kembali pada romansa kesilaman dan aku tak mungkin menyampaikan itu kepadamu, Yunika. Sebab engkau pernah mendebat ayahmu sendiri dengan bahasamu yang kritis itu bahwa ‘kelak ruas-ruas tebu itu akan diperas menjadi gula lalu dinikmati orang lain.’ Ingin benar kukatakan agar dirimu juga mencoba untuk belajar masuk ke dalam diriku lalu tumbuh menjadi rumpun tebu di ladangmu sendiri yang pernah engkau tanam dan engkau rawat bersama kedua orang tuamu ingin benar kukatakan bahwa ladang-ladang itu telah kupindahkan ke balik lipatan dadaku. Dan, Yunika, engkau bisa damai bersama banyak Rosyidah di dalamnya. Tetapi pagi ini. Telah berjalan menjadi siang, ketika pintu kamar kembali terhentak: “Praaakkk!!!” Ah, Yunika, sepertinya kita masih bertikai, dan tak juga kunjung selesai.

Pandeglang, 23 Juli 2016


Tentang Penulis

R Hamsyah, puisi puisi, artikel dan sejumlah tulisannya telah dipublikasikan di media cetak dan online serta sejumlah buku antologi.

Tidak ada komentar