loading...

HEADLINE

CERITA DALAM RUMAH PANGGUNG





(Tulisan ini diadaptasi dari sebuah novel sejarah Perempuan Penunggang Harimau)

Rumah panggung itu merupakan saksi sejarah asal usul ulun Lampung. Keberadaan rumah panggung atau yang biasa disebut lamban dalom atau gedung dalom itu mengawali kisah panjang tentang Kerajaan Sekala Bekhak. Lamban dalom merupakan istana tempat tinggal raja Sekala Bekhak. Kerajaan Sekala Bekhak merupakan kerajaan kuno asal muasal masyarakat Lampung Saibatin yang terletak di lereng Gunung Pesagi. Raja pertama dari kerajaan Sekala Bekhak adalah La Laula (selanjutnya disebut Puyang La Laula). Puyang La Laula dan pengikutnya merupakan pendatang di Sekala Bekhak. Puyang La Laula menjadi raja pertama setelah berhasil menaklukkan suku Tumi yang merupakan penduduk asli di lereng Gunung Pesagi. Oleh para sejarawan dan arkeolog, suku Tumi disebut sebagai bangsa Melayu Tua (Proto melayu).

Suku Tumi pertama kali tinggal di gunung Pesagi dan sekitaran hutan Hanibung. Bangsa suku Tumi percaya bahwa nenek moyang mereka adalah dewa-dewi yang turun dari kahyangan. Karena itulah tempat itu kemudian diberi nama “Sekala Bekhak” yang artinya adalah tempat persemayaman dewa-dewi atau negeri titisan para dewa. Pada masa itu, masyarakat dikerajaan Sekala Bekhak masih menganut kepercayaan Hindu – Animisme. Mereka percaya kepada dewa-dewa, arwah para leluhur,  dan benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan. Dewa tertinggi mereka adalah Melasa Kepappang (Melasa Kepampang). Melasa Kepampang merupakan sebuah pohon nangka yang bercabang dua. Pohon melasa kepampang dianggap memiliki kesaktian karena kedua cabangnya mempunyai khasiat yang berlawanan. Cabang yang pertama merupakan pohon bergetah dan apabila terkena getahnya dapat menyebabkan penyakit pada kulit.Penyakit tersebut hanya dapat disembuhkan oleh cabang yang lain. Sumber penyakit dan penawar terdapat pada satu pohon tersebut.

Kesaktian dan kesucian pohon melasa kepampang masih dipercayai oleh masyarakat di kerajaan Sekala Bekhak secara turun temurun hingga pada masa kepemimpinan yang Mulia Pun Beliau Ratu Sekekhumong. Ratu sekekhumong adalah putri tunggal dari Pangeran Muncak Bawok dan Ratu Intan Galuh (Pangeran Muncak Bawok adal putra dari Yang Mulia Raja Sangkan). Ratu Sekekhumong merupakan ratu penguasa terakhir yang memimpin kerajaan Sekala Bekhak kuno yang hidup sekitar abad ke 12 Masehi.Ratu Sekekhumong memiliki hewan tunggangan yaitu seekor harimau.Ratu Sekekhumong memiliki seorang putra dan seorang putri dari pernikahannya dengan Pun beliau Pangeran Umpu Betawang, yaitu Pangeran Kekuk Suik dan Putri Sindi.Kerajaan Sekala Bekhak di bawah kepemimpinan Ratu Sekekhumong menorehkan sejarah panjang yang merupakan penutup dari segala kisah kerajaan yang menganut kepercayaan Hindu-Animisme di Bumi Sekala Bekhak. Pada masa kepemimpinan Ratu Sekekhumong persembahan korban sepasang perjaka tampan dan perawan jelita masih terus dilakukan di atas batu kepampang  (sebuah batu yang terletak di Kenali Lampung Barat yang kini telah dijadikan cagar budaya oleh Pemprov Lampung), dan perbedaan kasta menciptakan kesenjangan antara kaum Saibatin dan kaum budak. Pada masa itu pekon tempat para budak yaitu di Pekon Bahway dan Pekon Hujung Langit (lereng gunung Pesagi).

Masa kejayaan Ratu Sekekhumong berakhir setelah kedatangan lima lelaki dari Kerajaan Peureulak (seterusnya merupakan Kerajaan Pasai). Kelima lelaki tersebut adalah Maulana Penggalang Paksi, Maulana Pernong, Maulana Nyekhupa, Maulana Belunguh, dan Maulana Bejalan di Way (selanjutnya disebut sebagai Paksi Pak). Kedatangan  Penggalang Paksi dan Paksi Pak dengan misi penyebaran Agama Islam tentu saja mendapat tentangan dari Ratu Sekekhumong. Ajakan Penggalang Paksi dan Paksi Pak untuk memeluk kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dijawab dengan senjata oleh Ratu Sekekhumong. Ratu penguasa Sekala Bekhak bersikeras untuk mempertahankan keyakinan para leluhur. Akan tetapi, ada sebagian masyarakat Kerajaan Sekala bekhak yang secara diam-diam mengikuti ajaran baru tersebut. Salah satunya yaitu Putri Sindi putri dari Ratu sekekhumong, yang kemudian menikah dengan Buay Belunguh (pernikahan dilakukan dengan istiadat Sebambangan yaitu dengan cara melarikan si gadis, kemudian  meninggalkan atau menitipkan keris, kepingan emas atau uang, dan surat sebagai pemberitahuan bahwa si gadis telah melakukan sebambangan). Semakin lama semakin banyak yang mengikuti ajakan memeluk agama Islam setelah mengetahui tujuan mulia dari ajaran yang dibawa dari Kerajaan Peureulak tersebut. Kedatangan mereka bukan karena ingin merebut kekuasaan, melainkan untuk mewartakan tentang Tuhan Yang Satu, kesamaan derajat dan penghapusan kasta, karena di mata Tuhan Yang Maha Esa manusia itu sama derajatnya.

Keluarga  prajurit, pengawal, dan tetua kerajaan Sekala Bekhak yang masih berpegang pada keyakinannya, mereka menentang ajaran baru dan memilih jalan perang sebagai ungkapan penolakan mereka. Usaha damai tak putus dilakukan oleh Penggalang Paksi dan Paksi Pak, tetapi Ratu Sekekhumong tetap menolak. Perangpun tak dapat dihindari. Pasukan yang dipimpin oleh Paksi Pak disebut sebagai Tentara Syahadat. Tentara Syahadat mendapat bantuan dari pasukan Buay Kenyangan (kerajaan Buay Kenyangan terletak di tengah hutan di sebelah timur kaki gunung pesagi, Umpu kenyanganlebih memilih ketentraman sehingga menolak untuk bersekutu dengan Dapunta Beliau Ratu Sekehumong. Lambang dari kerajaan Buay Kenyangan yaitu Kijang melompati tebing, yang kemudian menjadi lambang dari Kepaksian pernong). Pada masa perang saudara tersebut, banyak prajurit dari pasukan Tentara Syahadat yang menggunakan topeng (dengan bahan kainyang disebut dengan Sekura) untuk menutupi wajah mereka. Perang tersebut banyak menewaskan para pejuang keyakinan masing-masing. Perang yang melelahkan akhirnya dimenangkan oleh Tentara Syahadat. Kekalahan pasukan Ratu Sekekhumong yaitu ditandai dengan penebangan pohon suci Melasa Kepampang oleh Buay Pernong dengan menggunakan keris Arya Istinjak Darah (merupakan pusaka kebesaran Kesaibatinan Kepaksian Pernong, diberi nama Arya Istinjak Darah karena keris yang masih berlumur darah dan saat peperangan berakhir belum sempat dibersihkan itu, untuk mengingatkan kita pada sejarah perjuangan penyebaran agama Islam di Bumi Sekala Bekhak).

Setelah kekalahan Ratu Sekekhumong dan suku tumi, kebesaran Pepadun (singgasana) kerajaan Sekala Bekhak terputus, karena Pangeran Kekuk Suik telah dibawa pergi meninggalkan lamban dalom oleh pasukan yang diperintahkan oleh Ratu Sekhehumong. Selanjutnya kepemimpinan Kerajaan Sekala Bekhak diambil alih oleh keempat maulana tersebut. Karena itulah dibawah kepemimpinan Paksi Pak, kepaksian Paksi Pak memiliki simbol atau lambang “Cambai mak bujunjungan” yang artinya Sirih tumbuh tidak memiliki sandaran. Ibu kota Sekala Bekhak dipindahkan dari Bunuk Tenuakh ke Al Liwa (bahasa Arab yang bermakna bendera kemenangan, selanjutnya disebut Liwa).  Pembagian wilayah dilakukan secara adil oleh Penggalang Paksi kepada keempat anaknya. Hingga saat ini kerajaan Sekala Bekhak (saat ini disebut sebagai Kepaksian) dipimpin oleh Paksi Pak. Lamban Dalom atau Gedung Dalom Kepaksian Belunguh bertempat di Tanjung Menang (Kenali), Lamban Dalom Kepaksian Bejalan di Way di Puncak, Lamban Dalom Kepaksian Pernong di Hanibung (Batu Brak), dan Lamban Dalom Kepaksian Nyekhupa di Tapak Siring (Sukau).






Di bawah kepemimpinan Paksi Pak, masyarakat Saibatin dan Pepadun hidup rukun dan sejahtera, bahu membahu membangun Bumi Sekala Bekhak. Selain masyarakat Saibatin dan Pepadun, masyarakat pendatangpun diterima dengan baik di Bumi Sekala bekhak ini. Semboyan yang diusung oleh kerajaan Paksi Pak Sekala bekhak yaitu “Seangkonan, Seandanan, Seuyunan, dan Sekahutan” yang artinya saling merasa bersaudara, saling mengurus, saling membantu, dan saling menyayangi. Budaya dan warisan benda-benda bersejarah dari leluhur dari Kepaksian Sekala bekhak masih dijaga dan disimpan di dalam Lamban Dalom dan kini dijadikan sebagai cagar budaya dan kebanggaan masyarakat Bumi Sekala Bekhak. Potongan dari pohon melasa kepampang dijadikan sebagai pepadun di lamban dalom Buay Belunguh di Kenali.

Sejarah panjang yang telah dituliskan oleh para pejuang yang memimpikan kedamaian dan ketentraman di Bumi Sekala Bekhak telah terwujud. Buay Tumi dan kesaktian melasa kepampang telah musnah. Akan tetapi kitalah sebagai generasi penerus yang mengemban tugas untuk menjaga dan melestarikan budaya dan bahasa dari para leluhur yang telah mempertaruhkan hidupnya.Menjaga sejarah, menjaga, bahasa, menjaga aksara (had) Ka Ga Nga, dan menjaga budaya Lampung agar tidak musnah ( Mahdalena)


Tentang Penulis


Mahdalena, Penulis kelahiran Way Tenong 34 tahun yang silam kini berdomisili di Lampung Barat

Tidak ada komentar