loading...

HEADLINE

KEMBALI KE HULU







Terbangun dengan wajah tergesa, memburu waktu yang menggelinding jatuh ke jalan aspal, entah apa sebenarnya yang paling pantas untuk dikejar dalam hidup ini? ketika angka angka di kalender kian deras berjatuhan menghanyutkan rumah kita.

Sementara kota ini tak pernah tertidur, hiruk pikuk menciptakan kebisingan demi kebisingan juga polusi dari angkuhnya cerobong pabrik, memuntahkan gas beracun yang terus saja dihisap ke dalam rongga paru paru hingga ukuran otakmu menciut.

Duh, kita serupa kawanan semut merah yang berhamburan keluar dari rumah, bahkan sebelum matahari sempat menggeliat hingga ia tertidur lagi, menempuh jarak bermil mil, tersesat diantara gedung gedung pencakar langit, saling merelakan tubuh terhimpit berdesakan di gerbong kereta api, terminal kota atau terjebak kebosanan di antrean panjang pintu tol elektronik.

Itulah sebenarnya wajah penghuni kota kota besar, rutinitas yang menyita banyak waktu karena selalu dihadang kemacetan yang tak pernah berujung pada pangkal.

Lalu apakah kau sudah menemukan apa yang dicari? Ketika hidup hanya berputar putar seperti itu saja dari hari ke hari bahkan kian terperangkap di layar ponsel. Sementara kota terus saja menghisap energimu pelan pelan hingga kau menua dan seluruh rambutmu  dikuasai uban. 

Jangan, jangan seumur hidup meringkuk seperti itu. Sebab waktu sangatlah berharga, masih ingatkah kau kapan terakhir pernah membantu si sulung mengerjakan PRnya? atau menyaksikan celoteh si bungsu yang begitu girang bermain air di halaman. Ah kau juga mungkin sudah lupa kapan terakhir membantu mencuci piring sementara pasanganmu menyiapkan makan malam kalian, apalagi menyapa tetangga tetangga di sebelah rumah sambil menikmati segelas kopi, sekedar mengobrol ringan tentang musim hujan yang hampir menenggelamkan bola mata. 

Sungguh kita ditertawakan oleh waktu, kita kehilangan banyak hal hal sederhana yang sebenarnya tidaklah sederhana, yaitu kebebasan menikmati hidup layaknya manusia dan kemerdekaan untuk membangun kekayaan intelektual yang sebenarnya.

Maka, kembalilah ke hulu dimana imajinasimu dapat mengalir deras di celah celah sungai berbatu, diantara sejuknya udara pagi yang terhampar di ladang ladang kopi. Mimpi tak boleh mati sebab pertiwi ini masih terus menunggu, yah menunggumu  ( R.Tia)

Tidak ada komentar